BLOGGER TEMPLATES AND TWITTER BACKGROUNDS

Sabtu, 30 Mei 2009

Cerpen : Eskalator

Oleh : Ratna Indraswari Ibrahim

ANISA, sedang memasuki sebuah plaza, matanya tertarik ke beberapa blus yang cocok untuk nonton, beli bakso, jalan-jalan ke tepi pantai. (Akan dibelinya dua blus, untuk keperluan itu!).
Anisa, memutuskan untuk melihat yang lain dulu. Dia tidak perlu tergesa-gesa, hari ini cuti! Dia ingin belanja baju. Seminggu lagi, Anisa akan menghadiri pernikahan bosnya, mbak Erlika (putri pejabat tinggi di negeri ini dengan presenter yang sedang naik daun). Pesta pernikahan yang beberapa hari ini, sudah dilansir oleh media massa dan elektronik. Bahkan begitu banyaknya yang ingin hadir di pernikahan itu, konon kartu undangan pernikahan, mbak Erlika bisa dijual belikan.
Sebagai sekretaris mbak Erlika, Anisa tentu akan hadir di pesta pernikahan, yang paling bergengsi di tahun ini. Padahal Anisa, seorang perempuan dari daerah. Tepatnya, dia lahir dan dibesarkan di sebuah kota kecil di sebelah selatan kota Malang. Dimana perempuan-perempuan di tempatnya masih hidup dengan pola lama.
Kebanyakan menikah dalam usia muda, tidak berminat melanjutkan sekolah setelah menamatkan SMP-nya. Tata cara hidupnya seperti mbah-mbah mereka dulu, setelah bangun pagi memasak untuk seisi rumah, sambil merawat anak-anaknya. Di sela-sela waktunya, baik secara bersama maupun sendiri, mereka nonton TV dan membicarakan tokoh-tokoh dalam sinetron, sepertinya tokoh-tokoh itu adalah tetangga sebelah rumah.
***


ANISA, melihat baju-baju lagi dengan naik eskalator dari tingkat pertama, sampai tingkat terakhir. Kemudian kembali ke tempat pertama, di mana, Anisa melihat baju yang disukainya itu!
Kala melihat harganya! Anisa ragu, dia memutuskan untuk melihat-lihat gaun yang lainnya dulu. Beberapa bulan lagi, adik bungsunya akan masuk ke Universitas, berarti harus menghemat di pos baju.
***
KETIKA dia masih kecil, kakak lelakinya, memutuskan baju apa yang pantas bagi dirinya! Dia memang suka mengoleksi baju sejak kecil. Kakak lelakinya sering bilang, “Para suami tidak akan senang pada perempuan yang sangat suka belanja baju. Seharusnya, kau mulai menghitung dengan cermat uang gajimu, agar bisa menabung. Adik bungsu kita akan masuk universitas. Tidak semua beban sekolahnya, bisa saya biayai sendiri seperti pada masa kamu kuliah, apalagi kau tahu anak-anakku sebentar lagi juga akan masuk universitas.”
***
SESUNGGUHNYA, dia tidak pernah merasa harus mengikuti mode. Apalagi uang gajinya sebagai sekretaris mbak Erlika di kota ini, tidaklah besar. Uang gajinya sekitar tiga juta rupiah. Kalau dirinci yang harus dibayar adalah: kos, transportasi ke kantor, makan sehari-hari dan mengirim uang sekolah adiknya, jadi yang tersisa tidaklah banyak. Kehidupan Anisa kini, pasti lain kala masih mahasiswa di kotanya (Malang). Begitu banyak yang meski dibelinya. Tentu, sekali lagi, bukan karena dia ingin menjadi modis atau pesolek. Tapi pergaulan sosialnya, menuntut untuk berpenampilan, yang pastinya tidak murah.
Anisa, mengalihkan perhatiannya pada gaun yang lain. Harga gaun ini, tidak semahal yang pertama. Tapi, setelah diperhatikan dengan seksama, warnanya terlampau pucat untuk dipakai di pesta Erlika, yang diadakan di ballroom mewah, di mana tata lampunya, mengikuti orang-orang yang ingin bersalaman dengan pengantin.
Anisa, ingat kakak lelakinya pernah menampar, kala dia membeli gaun pilihannya sendiri! Menurut kakak lelakinya, gaun itu mengesankan pemakainya perempuan nakal. Semua kerabatnya sepaham kalau gaun itu lebih baik dibakar. Waktu itu, dia baru saja empat belas tahun. Oleh karenanya, semua memberi nasihat, “Sebenarnya setiap suami lebih suka pada perempuan yang sederhana.”
Anisa, melihat sekotak make-up, yang pasti serasi dengan gaun pilihannya yang pertama. Sebetulnya, Anisa merasa pas dengan gaun pilihannya yang pertama itu. Tapi kalau dia jadi membeli, uangnya tidak cukup untuk membeli aksesoris, sebagai pelengkap gaun itu.
Anisa tersenyum, sudah dibayangkan, seandainya dia memakai gaun tadi, dalam pesta mbak Erlika, semua orang pasti membelalakkan matanya. Kalau saja pada waktu itu, dia tidak ngotot dan kerja di kota metropolis ini, pasti dia kini sudah jadi istri Hasan, yang hidupnya di kota kecil. Sekalipun pada awalnya, dia begitu ketakutan dan kesepian tinggal di kota metropolis ini. Sehingga, kadang-kadang berPikir untuk menerima saja saran keluarganya, menjadi istri Hasan.
***
ANISA berjalan lagi kebagian lain di plaza ini. Matanya tertumbuk pada gaun pengantin, gaun itu putih, dia tidak berani membayangkan, apakah kelak akan tersenyum dengan memakai gaun pengantin itu.
Lantas, cepat-cepat dia mengalihkan perhatiannya pada tas bagus. Melihat beberapa warna yang bagus, dia tersenyum sendiri. Anisa, belum memutuskan gaun mana yang akan dibeli untuk pestanya, mbak Erlika, Anisa tidak mau buru-buru menentukan pilihannya. Tiga bulan yang lewat, pernah membeli gaun di sini, sampai hari ini, tidak ingin memakainya. Tentu saja, dia tak ingin kejadian itu, terulang. Sebenarnya, dia sudah banyak melihat gaun di sini, tapi tak ada yang cocok. Kalau cocok, gaun itu terlampau mahal. Tiba-tiba matanya tertumbuk pada sebuah gaun semodel yang dibakar kakaknya.
Anisa, lantas pindah ke plaza lain. Ada beberapa gaun yang menarik perhatiannya.
***
DIA melihat gaun yang lebih bagus dari pilihannya yang pertama. Dia menduga cuma dengan gaji sebesar gaji mbak Erlika bisa dibelinya gaun semacam itu. Anisa melihat lagi gaun itu, kalau menguras uang tabungannya, pasti bisa terbeli gaun itu! Sebenarnya, dia ingin memanjakan dirinya sendiri. Pastinya semua perempuan, tidak sayang membelanjakan uangnya untuk membeli gaun seindah itu. Seandainya terbeli gaun ini, Erlika yang jadi pengantin, akan tercengang-cengang melihat gaun yang pasti bagus. Namun, sebelum memutuskan mengambil gaun itu seorang perempuan cantik sudah menyuruh pramuniaga membungkus gaun itu.
Anisa, untuk sesaat tergagap-gagap. Sampai saat ini, belum juga terpilih gaun untuk pestanya, Erlika. Padahal, dia tidak punya niat untuk jalan-jalan lagi ke pusat perbelanjaan lain. Dia harus menabung untuk keperluan sekolah adiknya. Namun, Anisa ingat gaun yang berwarna coklat, di padu dengan aksesori ini sangat cocok. Aneh, dia sudah mendapat aksesori, tas dan sepasang sepatu. Namun, belum juga dibelinya gaun yang pas untuk pestanya, Erlika. Kemudian, dia memutuskan untuk membeli lebih dulu blus santai, sebuah buku petunjuk tentang bagaimana meraih sukses, boneka lucu untuk di taruh di meja riasnya.
Anisa merasa capek, sebetulnya mengapa harus ribut, toh tidak ada yang akan melihat dirinya di pesta itu. Yang hadir pasti akan melihat para pejabat di negeri ini, beberapa selebritis yang jadi teman mbak Erlika.
Anisa merasa didorong lagi untuk melihat gaun semodel yang dibakar kakaknya itu. Dia ragu, tiba-tiba ingin dibelinya gaun itu. Sekalipun dia tak akan memakainya. Mungkin ini sebuah pemborosan, tapi lagi-lagi dia ingin membelinya. Secepatnya, Anisa membeli gaun itu, sebelum orang lain membelinya. Bergegas ke kasa, dia merasa seperti juara kelas ketika membayar gaun itu.
Seseorang menyentuhnya, “Mbak, saya sedang hamil dari tadi kepingin pada gaun itu. Mungkin saya ngidam gaun itu. Apakah saya bisa mengganti gaun itu?” Anisa merasa terhenyak, “Apakah suami Anda memperbolehkan, memakai gaun semodel itu?”
“Saya istrinya, bukan bawahannya. Apalagi, saya lagi hamil anak pertama kami.”
Anisa merasa dibanting! Dengan cepat Anisa keluar dari plaza. Kini, dia berada di salah satu gerai, ketika sibuk memilih, pramuniaga gerai itu berkata, “ Mbak, dari tadi kelihatan sibuk memilih baju, apakah saya bisa menunjukkan sebuah baju yang pastinya pantas untuk Mbak?”
Anisa merasa capek. Pramuniaga itu menunjukkan sebuah gaun semodel, yang dibakar kakak laki-lakinya! (hari ini, Anisa melihat baju semodel yang dibakar kakaknya sebanyak tiga kali.)
Anisa, mengembuskan napasnya kuat-kuat.
“Apakah, saya bungkuskan gaun ini untuk Mbak?”
Untuk sejenak Anisa ragu. Kemudian dia merasa sudah mengambil keputusannya sendiri. “Bukan gaun itu, tapi gaun coklat yang di sana. Saya akan menghadiri pesta Mbak Erlika yang putri pejabat itu. Baca beritanya kan, hari ini? Kan sudah sering disiarkan juga di infotament”
Pramuniaga itu membelalakan matanya. Anisa tersenyum, dari balik pintu kaca gerai ini, anak rambutnya bermain-main di keningnya.

Malang, 15 Januari 2009

0 komentar: